Senin, 24 Maret 2014

Perbedaan Berfikir dan Bernalar



 NAMA : ALIFANI AMALIYAH
KELAS : 3EA01
NPM : 10211607

 PENDAHULUAN 

Di dunia ini Tuhan menciptakan makhluk yang paling sempurna yaitu manusia. Tuhan memberikan kelebihan kepada manusia yaitu untuk berfikir dan bernalar yang tidak terdapat pada ciptaan Tuhan lainnya. Manusia memiliki susunan saraf otak yang baik dan sempurna sehingga memiliki kemampuan berfikir dan bernalar yang baik. Di jaman sekarang ini manusia sering menggunakan kemampuan berfikir dan bernalarnya dalam kehidupan. 

ISI
Terkadang perbedaan berfikir dan bernalar pada manusia sulit untuk membedakannya. Dalam pemakain sehari – hari, kata berpikir sering disamakan dengan bernalar. Kata berfikir selalu dihubungkan dengan masalah-masalah yang timbul dan terjadi pada masalah-masalah yang kini ataupun masalah yang sudah lampau. Dalam hal ini, biasanya manusia menggunakan berfikir untuk memutuskan  hal-hal yang perlu dipertimbangkan atau dilakukan misalnya berfikir dalam menentukan apa yang harus dilakukan untuk bisa sukses di masa depan , berfikir untuk menciptakan lagu, dan lainnya.
Dengan bernalar, manusia dapat berpikir. Dalam hal bernalar manusia menggunakan logikanya maksudnya yaitu bernalar secara logis dalam menarik suatu kesimpulan yang bersifat pengetahuan. Akan tetapi tidak semua kegiatan berpikir mendasarkan diri pada penalaran (Jujun S. Suriasumantri, 2002:43). Suatu proses berpikir dalam menarik suatu kesimpulan pengetahuan disebut penalaran. Pada hakikatnya manusia itu adalah makhluk yang berpikir, bernalar, beremosi, bersikap dan beramal. Sikap dan pengalamannya bersumber pada pengetahuannya melalui aktivitas berpikir, bernalar, dan beremosinya. Manusia biasa menggunakan nalarnya dalam memecahakan sebuah masalah yaitu mencari jalan keluar dari masalah dengan menggunakan logika untuk mendapatkan kesimpulan yang tepat untuk bisa keluar dari masalah tersebut.

PENUTUP
Dapat dilihat dari definisi di atas bahwa berpikir dan bernalar berbeda. Berfikir memiliki arti yang lebih luas dari sekedar bernalar. Perbedaan berpikir dan bernalar yaitu berpikir  merupakan ciri utama bagi manusia untuk membedakan antara manusia dan mahkluk lain, secara mental berjerih payah untuk memahami sesuatu yang dialami atau mencari jalan keluar dari permasalahan yang sedang dihadapi,  berfikir juga merupakan daya yang paling utama yang mempunyai ciri khas yang dapat membedakan manusia dan hewan yaitu manusia dapat berfikir karena manusia mempunyai bahasa, sedangkan hewan tidak. Bernalar adalah suatu proses berpikir dalam menarik suatu kesimpulan.  Bernalar mempunyai tahapan-tahapan  diantaranya yaitu mengerti, memutuskan, dan menyimpulkan. Bernalar sebagai bukti bahwa kita mampu mengambil kesimpulan yang lurus.

Minggu, 05 Januari 2014

Kisah Pernikahan Nabi Muhammad SAW

Berikut ini merupakan istri-istri Baginda Rasulullah SAW

1. Khadijah binti Khuwailid

Khadijah adalah istri pertama Nabi Muhammad SAW. Ia merupakan janda yang berusia 40 tahun yang sudah mempunyai empat anak bersama suami terdahulunya. Saat pernikahan terjadi, Nabi SAW berusia 25 tahun, sedangkan Khadijah berusia 40 tahun.  Khadijah adalah satu-satunya istri nabi yang tidak pernah dimadu. Kebersamaan mereka menjalani bahtera rumah tangga selama 25 tahun yaitu 15 tahun sebelum menerima wahyu pertama dan 10 tahun setelahnya hingga wafatnya Khadijah, kira-kira 3 tahun sebelum hijrah ke Madinah.

Bersama Khadijah, sang nabi mempunyai enam orang anak, yaitu: Al Qasim, Zainab, Ruqayyah, Ummu Kultsum, Fatimah, dan Abdullah. Al Qosim mendapat julukan Abul Qosim, sedangkan Abdullah mempunyai julukan at Thoyib at Thohir yang berarti "Yang Bagus dan Lagi Suci".

2. Saudah binti Zam'ah

Sepeninggal Khadijah, Nabi  SAW menikahi Saudah binti Zam'ah. Sawdah merupakan  seorang janda tua yang ditinggal suaminya. Sawdah dan suaminya al-Sakran pernah berhijrah ke Habsyah. Sepulang dari Habsyah suaminya meninggal dunia dan Rasulullah memperistrinya untuk memberi perlindungan kepadanya dan memberi penghargaan yang tinggi kepada suaminya. Acara pernikahan dilakukan oleh Salit bin Amr. Sementara pada riwayat lain menyatakan upacara dilakukan oleh Abu Hatib bin Amr. Maskawinnya ialah 400 dirham.

3. Aisyah binti Abu Bakar

Aisyah merupakan satu-satunya istri Sang Nabi yang masih gadis. Saat menikah dengan Nabi usia Aisah masih enam tahun. Ia  dinikahi pada tahun 620 M dan berlangsung di Mekkah sebelum Hijrah. Upacara pernikahan dilakukan oleh ayahnya Abu Bakar dengan maskawin 400 dirham.

Dalam beberapa hadis disebutkan bahwa selama menjalani pernikahan dengan Aisyah, Muhammad tidak bersama dengannya sebagai suami-istri melainkan setelah berhijrah ke Madinah. Saat itu, Aisyah berumur 9 tahun sementara nabi Muhammad berumur 53 tahun. 

4. Hafshah binti Umar bin al-Khattab

Istri keempat Nabi bernama Hafsah. Ia merupakan janda yang ditinggal suaminya Khunais bin Hudhafah al-Sahmiy yang meninggal dunia saat Perang Badar. Ayahnya Umar meminta Abu Bakar menikah dengan Hafsah, namun Abu Bakar tidak menyatakan persetujuan apapun dan Umar mengadu kepada nabi Muhammad. Kemudian rasulullah mengambil Hafsah sebagai istri. Hafsah Binti Umar (wafat 45 H)

Hafshah binti Umar bin Khaththab adalah putri seorang laki-laki yang terbaik dan mengetahui hak-hak Allah dan kaum muslimin. Umar bin Khaththab adalah seorang penguasa yang adil dan memiliki hati yang sangat khusyuk. Pernikahan Rasulullah . dengan Hafshah merupakan bukti cinta kasihnya kepada mukminah yang telah menjanda setelah ditinggalkan suaminya, Khunais bin Hudzafah as-Sahami, yang berjihad di jalan Allah, pernah berhijrah ke Habasyah, kemudian ke Madinah, dan gugur dalam Perang Badar. Setelah suami anaknya meninggal, dengan perasaan sedih, Umar menghadap Rasulullah untuk mengabarkan nasib anaknya yang menjanda. Ketika itu Hafshah berusia delapan belas tahun. Mendengar penuturan Umar, Rasulullah memberinya kabar gembira dengan mengatakan bahwa ia bersedia menikahi Hafshah.

Jika kita menyebut nama Hafshah, ingatan kita akan tertuju pada jasa-jasanya yang besar terhadap kaum muslimin saat itu. Dialah istri Nabi yang pertama kali menyimpan Al-Qur’an dalam bentuk tulisan pada kulit, tulang, dan pelepah kurma, hingga kemudian menjadi sebuah kitab yang sangat agung.

5. Hindun binti Abi Umayyah (Ummu Salamah)

Salamah seorang janda tua mempunyai 4 anak dengan suami pertama yang bernama Abdullah bin Abd al-Asad. Suaminya syahid dalam Perang Uhud dan saudara sepupunya turut syahid pula dalam perang itu lalu nabi Muhammad melamarnya. Mulanya lamaran ditolak karena menyadari usia tuanya. Alasan umur turut digunakannya ketika menolak lamaran Abu Bakar dan Umar al Khattab. Lamaran kali kedua nabi Muhammad diterimanya dengan maskawin sebuah tilam, mangkuk dari sebuah pengisar tepung.

6. Ramlah binti Abu Sufyan (Ummu Habibah)

Ummu Habibah seorang janda. Suami pertamanya Ubaidillah bin Jahsyin al-Asadiy. Ummu Habibah dan suaminya Ubaidullah pernah berhijrah ke Habsyah. Ubaidullah meninggal dunia ketika di rantau dan Ummu Habibah yang berada di Habsyah kehilangan tempat bergantung.

Melalui al Najashi, nabi Muhammad melamar Ummu Habibah dan upacara pernikahan dilakukan oleh Khalid bin Said al-As dengan maskawin 400 dirham, dibayar oleh al Najashi bagi pihak nabi.

7. Juwayriyah (Barrah) binti Harits

Ayah Juwairiyah ialah ketua kelompok Bani Mustaliq yang telah mengumpulkan bala tentaranya untuk memerangi nabi Muhammad dalam Perang al-Muraisi'. Setelah Bani al-Mustaliq tewas dan Barrah ditawan oleh Tsabit bin Qais bin al-Syammas al-Ansariy. Tsabit hendak dimukatabah dengan 9 tahil emas, dan Barrah pun mengadu kepada nabi. Rasulullah bersedia membayar mukatabah tersebut, kemudian menikahinya.

8. Shafiyah binti Huyay

Shafiyah anak dari Huyay, ketua suku Bani Nadhir, yaitu salah satu Bani Israel yang berdiam di sekitar Madinah. Dalam Perang Khaibar, Shafiyah dan suaminya Kinanah bin al-Rabi telah tertawan. Dalam satu perundingan setelah dibebaskan, Safiyah memilih untuk menjadi istri nabi Muhamad. Sofiah binti Huyai bin Akhtab (wafat 50 H).

Shafiyah memiliki kulit yang sangat putih dan memiliki paras cantik, menurut Ummu Sinan Al-Aslamiyah, sehingga membuat cemburu istri-istri Muhammad yang lain. Bahkan ada istri Muhammad dengan nada mengejek, mereka mengatakan bahwa mereka adalah wanita-wanita Quraisy, wanita-wanita Arab sedangkan dirinya adalah wanita asing (Yahudi). Bahkan suatu ketika Hafshah sampai mengeluarkan lisan kata-kata, ”Anak seorang Yahudi” hingga menyebabkan Shafiyah menangis. Muhammad kemudian bersabda, “Sesungguhnya engkau adalah seorang putri seorang nabi dan pamanmu adalah seorang nabi, suamimu pun juga seorang nabi lantas dengan alasan apa dia mengejekmu?” Kemudian Muhammad bersabda kepada Hafshah, “Bertakwalah kepada Allah wahai Hafshah!” Selanjutnya manakala dia mendengar ejekan dari istri-istri nabi yang lain maka diapun berkata, “Bagaimana bisa kalian lebih baik dariku, padahal suamiku adalah Muhammad, ayahku (leluhur) adalah Harun dan pamanku adalah Musa?”[8] Shafiyah wafat tatkala berumur sekitar 50 tahun, ketika masa pemerintahan Mu'awiyah.

9. Zaynab binti Jahsy

Zaynab merupakan istri Zaid bin Haritsah, yang pernah menjadi budak dan kemudian menjadi anak angkat nabi Muhammad s.a.w. setelah dia dimerdekakan. Hubungan suami istri antara Zainah dan Zaid tidak bahagia karena Zainab dari keturunan mulia, tidak mudah patuh dan tidak setaraf dengan Zaid. Zaid telah menceraikannya walaupun telah dinasihati oleh nabi Muhammad SAW. Upacara pernikahan dilakukan oleh Abbas bin Abdul-Muththalib dengan maskawin 400 dirham, dibayar bagi pihak Nabi Muhammad SAW.

10. Zaynab binti Khuzaymah

Zaynab putri Khuzaymah bin al-Harits bin Abdullah bin Amr bin Abdu Manaf bin Hilal bin Amir bin Sha’sha’a bin Muawiyah. Dijuluki “Ibu orang-orang miskin” karena kedermawanannya terhadap orang-orang miskin. Sebelumnya menikah dengan Muhammad, ia adalah istri dari Abdullah bin Jahsy. Ada riwayat yang mengatakan ia istri Abdu Thufail bin al-Harits, tetapi pendapat pertama adalah yang sahih. Ia dinikahi oleh Muhammad pada tahun ke 3 H dan hidup bersamanya selama hanya dua atau tiga bulan., karena Zainab binti Khuzaimah meninggal dunia sewaktu Muhammad masih hidup.

11. Maymunah binti al-Harits

Maymunah binti al-Harits bin Hazn bin Bujair bin al-Harm bin Ruwaibah bin Abdullah bin Hilal bin Amir bin Sha’sha’a bin Muawiyah bibi dari Khalid bin Walid dab Abdullah bin Abbas. Rasulullah saw menikahinya di tempat yang bernama Sarif suatu tempat mata air yang berada sembilan mil dari kota Mekah. 

12. Maria binti Syama’un

Mariah al-Qibthiyah ialah satu-satunya istri Nabi yang berasal dari Mesir. Ia seorang mantan budak Nabi yang telah dinikahi dan satu-satunya pula yang dengannya Nabi memperoleh anak selain Khadijah yakni Ibrahim namun meninggal dalam usia 4 tahun. Mariyah al-Qibtiyah wafat pada 16H/637 M.

Seorang wanita asal Mesir yang dihadiahkan oleh Muqauqis, penguasa Mesir kepada Rasulullah tahun 7 H. Setelah dimerdekakan lalu dinikahi oleh Rasulullah dan mendapat seorang putra bernama Ibrahim. Sepeninggal Rasulullah dia dibiayai oleh Abu Bakar kemudian Umar dan meninggal pada masa kekhalifahan Umar.

Seperti halnya Sayyidah Raihanah binti Zaid, Mariyah al-Qibtiyah adalah teman (stlh dibebaskan Rasulullah) yang kemudian ia nikahi. Rasulullah memperlakukan Mariyah sebagaimana ia memperlakukan istri-istrinya yang lainnya. Abu Bakar dan Umar pun memperlakukan Mariyah layaknya seorang Ummul-Mukminin. Dia adalah istri Rasulullah satu-satunya yang melahirkan seorang putra, Ibrahim, setelah Khadijah.

Allah menghendaki Mariyah al-Qibtiyah melahirkan seorang putra Rasulullah setelah Khadijah. Betapa gembiranya Rasulullah mendengar berita kehamilan Mariyah, terlebih setelah putra-putrinya, yaitu Abdullah, Qasim, dan Ruqayah meninggal dunia.
Mariyah mengandung setelah setahun tiba di Madinah. Kehamilannya membuat istri-istri Rasul cemburu karena telah beberapa tahun mereka menikah, namun tidak kunjung dikaruniai seorang anak pun. Rasulullah menjaga kandungan istrinya dengan sangat hati-hati. Pada bulan Dzulhijjah tahun kedelapan hijrah, Mariyah melahirkan bayinya yang kemudian Rasulullah memberinya nama Ibrahim demi mengharap berkah dari nama bapak para nabi, Ibrahim. Lalu ia memerdekakan Mariyah sepenuhnya.
 

Asal Usul Adanya Teh





Pohon teh (Camellia sinensis) berasal dari Negeri Cina, tepatnya di provisnsi Yunnan, bagian barat daya Cina. Iklim wilayah daerah ini tersebut tropis dan sub-tropis, yang hangat dan lembab sehingga cocok menjadi tempat bagi tanaman teh.  Bahkan ada teh liar yang berumur 2,700 tahun dan selebihnya tanaman teh yang ditanam yang mencapai usia 800 tahun ditemukan ditempat ini.


Awalnya teh digunakan sebagai bahan obat – obatan (Abad ke-8 SM), itupun sudah berumur ribuan tahun riwayatnya. Orang – orang Cina pada waktu itu mengunyah teh (770 SM – 476 SM) mereka menikmati rasa yang menyenangkan dari sari daun teh. Teh juga sering kali dipadukan dengan ragam jenis makanan dan racikan sop.



Kisah yang paling banyak ditulis tentang asal usul teh adalah cerita tentang Kaisar Shen Nung yang hidup sekitar tahun 2737 sebelum Masehi. Selain Kaisar Shen Nung, ada banyak kisah tentang penemuan teh dan bagaimana perkembangan teh di dunia. Yuk cek satu persatu

Kaisar Shen Nung
Kaisar Shen Nung terkenal bukan hanya sebagai seorang Kaisar tetapi juga disebut sebagai The Divine Healer (Sang Penyembuh dari Ilahi). Cerita penemuan teh oleh sang Kaisar juga sangat tidak disengaja ketika daun teh pertama dari tanaman teh yang ada di kebun Kaisar Shen Nung jatuh kedalam air panas yang sedang dimasak oleh Sang Kaisar. Ketika daun teh tersebut terseduh dengan air panas, aroma sedap langsung muncul membuat Sang Kaisar sangat tergoda untuk meminumnya. 

Bukan hanya aromanya yang sedap, rasa sepat dan pahit yang ditimbulkan oleh daun teh juga sangat disukai oleh Sang Kaisar karena dipercaya dapat membuat tubuh lebih segar dan menurut penelitian Kaisar Shen Nung, minuman teh dapat menyembuhkan beberapa penyakit.

Sejak itu, Kaisar Shen Nung kerap kali meminum teh dan sejak itu teh menjadi sangat populer di seluruh penjuru Cina. 

Daruma 
DARUMA adalah pembawa ajaran agama Zen Buddha (Father of Zen Buddha) di Jepang pada tahun 600 Masehi.  Terdapat beberapa versi tentang penemuan tanaman teh di Jepang yang dihubungkan dengan DARUMA. 

Legenda menyebutkan bahwa DARUMA yang sedang mempelajari agama Zen Buddha tersebut tahan duduk bertapa tanpa tidur ataupun memejamkan matanya selama 7 tahun (ada yang menyebutkan 9 tahun), versi lain menyebutkan DARUMA duduk bertapa tanpa bergerak sampai akhirnya kedua kakinya lumpuh dan legenda paling eksterm menyebutkan bahwa DARUMA sengaja merobek kedua kelopak matanya untuk menghindari tertidur pada saat bertapa.

 Kelopak matanya terjatuh di tanah dan menurut legenda keajaiban terjadi ketika tempat dimana kelopak mata tersebut jatuh, tumbuh tanaman teh yang pertama di Jepang. Hal tersebut yang membuat DARUMA terkenal dengan kedua matanya yang besar sebagai icon dan dijadikan boneka terkenal dinegeri Jepang. 

Lu Yu
Untuk pertama kalinya pada tahun 780 Masehi seorang cendekiawan bernama Lu Yu mengumpulkan dan membukukan temuan – temuan akan manfaat dan kegunaan teh kedalam sebuah literatur mengenai teh, yaitu Ch’a Cing atau The Classic of Tea.

Buku tersebut menggambarkan “Teh merupakan minuman yang membuat kita lebih bersemangat bila meminumnya, menentramkan hati, membuka pikiran dan mencegah rasa kantuk, membuat badan terasa ringan dan segar serta meningkatkan kemampuan berpikir.

Dinasti Ming 
Pada masa Dinasti Ming (1368 – 1644), bangsa Cina mulai menyeduh teh dengan air mendidih. Dengan sedikit adaptasi, tempat penuang anggur tradisional dari Cina yang menggunakan penutup menjadi teko teh yang sempurna.

Huruf Cha
Teh dengan segala variasinya di dunia dalam pengejaan dan pengucapan berasal dari sumber tunggal. “Te” berarti teh dalam bahasa Cina Amoy. Bahasa Cina nasional dari kata teh yaitu “cha”, sedangkan dalam Bahasa Inggris teh disebut dengan “tea”.
Lalu bagaimana penyebaran teh di dunia sehingga sampai ke Indonesia?

Jalur Sutera
Selama masa pemerintahan Dinasti Han, Tang, Soon dan Yuan, komoditas Teh diperkenalkan ke dunia luar ( dari Cina ) melalui pertukaran kebudayaan menyeberangi Asia Tengah menyelusuri benua Eropa sambil memperdagangkan kain sutera (disebut Jalur Sutera).

East India Company 
East India Company atau Perusahaan Hindia Timur Britania yang didirikan oleh Ratu Elizabeth I pada 31 Desember 1600 yang bertujuan untuk memonopoli perdagangan di Hindia Timur. Pada tahun 1669, East India Company mendapatkan lisensi dengan mendatangkan teh dari Cina ke Inggris menggunakan kapal Elizabeth I. Monopoli perdagangan teh dikuasainya sampai dengan tahun 1833.

Boston Tea Party
East India Company pada tahun 1773 boleh berdagang Teh langsung dari Cina ke Amerika dengan memotong jalur perdagangan dan perpajakan yang merugikan eksportir Eropa dan importir Amerika. Sehingga mengakibatkan marahnya penduduk Boston, dengan cara membuang seluruh peti yang berisi komoditas Teh kedalam laut dikenal sebagai BOSTON TEA PARTY yang berakibat pula tercetusnya revolusi Bangsa Amerika terhadap penjajahan bangsa Inggris.

Tanaman teh pertama kali masuk ke Indonesia tahun 1684, berupa biji teh dari Jepang yang dibawa oleh seorang Jerman bernama Andreas Cleyer, dan ditanam sebagai tanaman hias di Jakarta.

Pada tahun 1694, seorang pendeta bernama F. Valentijn melaporkan melihat perdu teh muda berasal dari Cina tumbuh di Taman Istana Gubernur Jenderal Champuys di Jakarta. Pada tahun 1826 tanaman teh berhasil ditanam melengkapi Kebun Raya Bogor, dan pada tahun 1827 di Kebun Percobaan Cisurupan, Garut, Jawa Barat. 

Berhasilnya penanaman percobaan skala besar di Wanayasa (Purwakarta) dan di Raung (Banyuwangi) membuka jalan bagi Jacobus Isidorus Loudewijk Levian Jacobson, seorang ahli teh, menaruh landasan bagi usaha perkebunan teh di Jawa.

Pada tahun 1828 masa pemerintahan Gubernur Van Den Bosh, Teh menjadi salah satu tanaman yang harus ditanam rakyat melalui politik Tanam Paksa ( Culture Stelsel ).